Pada 2024, sebanyak 77.965 pekerja di Indonesia tercatat terkena PHK. Angka ini menunjukkan dinamika tenaga kerja yang perlu diperhatikan perusahaan, terutama dalam mengelola dan mempertahankan karyawan.
Merekrut satu karyawan baru bisa menghabiskan biaya setara 6–9 bulan gaji, mulai dari rekrutmen hingga pelatihan. Sebab itu, perusahaan perlu memperhatikan tingkat turnover, bukan sekadar jumlah karyawan yang keluar.
Setiap HR perlu memahami cara menghitung turnover karyawan dengan rumus sederhana. Hasil perhitungannya dapat membantu HR mengetahui kondisi perusahaan dan mengambil keputusan berbasis data.
Secara umum, turnover rate dihitung dengan membagi jumlah karyawan yang keluar dengan rata-rata jumlah karyawan dalam periode tertentu, kemudian dikalikan 100%. Sebelum mulai menghitung, kamu juga perlu memahami jenis turnover dan cara membaca hasilnya.
Ringkasan Cepat
- Turnover rate = jumlah karyawan keluar ÷ rata-rata jumlah karyawan × 100%.
- Rata-rata jumlah karyawan dihitung dari jumlah karyawan awal dan akhir periode.
- Perhitungan bisa dilakukan secara bulanan maupun tahunan.
- Secara umum, turnover di bawah 10% per tahun dianggap sehat, sedangkan di atas 20% perlu mendapat perhatian serius.
Apa Itu Turnover Karyawan?
Turnover karyawan adalah tingkat keluar-masuknya karyawan dari sebuah perusahaan dalam periode tertentu, biasanya dinyatakan dalam persentase. Berdasarkan alasan keluarnya, turnover dibedakan menjadi voluntary turnover, yaitu karyawan mengundurkan diri atas kemauan sendiri dan involuntary turnover, yaitu karyawan keluar karena PHK, pensiun, atau keputusan perusahaan.

Berdasarkan dampaknya, terdapat functional turnover, ketika karyawan berperforma rendah keluar dan dapat berdampak positif bagi perusahaan, serta dysfunctional turnover, ketika karyawan terbaik keluar dan merugikan perusahaan. Salah satu cara menjaga kinerja tim adalah melalui performance management karyawan yang terstruktur.
Memahami jenis turnover penting bagi HR agar angka yang dihitung dapat diinterpretasikan dengan tepat.
Rumus Cara Menghitung Turnover Karyawan
Menghitung turnover karyawan dapat dilakukan dengan rumus sederhana berikut:
- Turnover Rate = (Jumlah Karyawan Keluar ÷ Rata-rata Jumlah Karyawan) × 100%
- Rata-rata Jumlah Karyawan = (Jumlah Karyawan Awal Periode + Jumlah Karyawan Akhir Periode) ÷ 2
Jumlah karyawan yang digunakan dalam rumus adalah karyawan yang benar-benar keluar dari perusahaan. Karyawan baru yang masuk selama periode tersebut tidak dihitung sebagai karyawan yang keluar.
Rumus bulanan dan tahunan pada dasarnya sama, hanya berbeda pada periode data yang digunakan. Turnover bulanan menggunakan data karyawan yang keluar selama satu bulan, sedangkan turnover tahunan menggunakan data selama satu tahun.
Contoh Perhitungan Turnover Karyawan
Supaya lebih jelas, coba kita hitung bersama dari kasus berikut:
PT Maju Bersama memiliki 200 karyawan di awal bulan dan 210 karyawan di akhir bulan. Selama bulan tersebut, terdapat 5 karyawan yang mengundurkan diri.
Pertama, hitung rata-rata jumlah karyawan. Jumlah karyawan di awal dan akhir bulan dijumlahkan dan dibagi dua.
(200 + 210) ÷ 2 = 205 karyawan
Jadi, rata-rata jumlah karyawan PT Maju Bersama pada bulan tersebut adalah 205 karyawan.
Selanjutnya, masukkan jumlah karyawan yang keluar dan rata-rata jumlah karyawan ke dalam rumus turnover rate:
(5÷205) × 100% = 2,44%
Artinya, tingkat turnover PT Maju Bersama pada bulan tersebut adalah 2,44%.
Contoh Perhitungan Turnover Tahunan
Untuk melihat tingkat turnover dalam satu tahun, perhitungannya dapat menggunakan data selama 12 bulan.
Jika tingkat turnover setiap bulan berada di angka 2,44%, estimasi turnover dalam satu tahun adalah:
2,44% × 12 = 29,28%
Jadi, estimasi tingkat turnover tahunannya sekitar 29,3%.
Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan pengalian turnover bulanan. Kamu bisa menggunakan total karyawan yang keluar selama satu tahun dan rata-rata jumlah karyawan dalam satu tahun untuk mendapatkan angka turnover tahunan secara langsung. Rumusnya adalah:
Turnover Tahunan = (Total Karyawan Keluar Setahun ÷ Rata-rata Jumlah Karyawan Setahun) × 100%
Dengan cara ini, HR dapat melihat tingkat turnover berdasarkan kondisi karyawan selama satu tahun secara keseluruhan.
Berapa Angka Turnover Karyawan yang Normal?
Secara umum, tingkat turnover di bawah 10% per tahun dianggap sehat untuk kebanyakan industri. Angka turnover yang rendah menunjukkan bahwa karyawan cenderung bertahan di perusahaan sehingga HR bisa lebih fokus pada pengembangan karyawan dan menjaga produktivitas tim.
Baca Juga: Apa Itu Performance Management di Human Resource?
Namun, angka turnover tidak bisa dinilai hanya dari satu patokan. Kondisi setiap industri dan perusahaan berbeda. Misalnya, industri retail dan hospitality cenderung memiliki turnover yang lebih tinggi secara alami karena karakteristik pekerjaan dan tenaga kerjanya.
Sebagai gambaran umum, kamu bisa menggunakan kategori berikut untuk membaca tingkat turnover karyawan:
| Tingkat Turnover | Interpretasi | Tindakan yang Disarankan |
| <10% per tahun | Sehat | Pertahankan program retensi |
| 10-20% per tahun | Perlu dipantau | Review kompensasi dan lingkungan kerja |
| >20% per tahun | Berbahaya | Audit menyeluruh proses HR |
Industri tertentu, seperti retail atau hospitality secara alami dapat memiliki turnover yang lebih tinggi. HR sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa angka tertentu buruk tanpa melihat konteks industri dan kondisi perusahaan.
Jika perusahaan mengalami turnover karyawan tinggi, beberapa faktor yang perlu diperiksa antara lain gaji yang kurang kompetitif, tidak adanya jalur karier yang jelas, lingkungan kerja yang kurang baik, hingga proses onboarding yang lemah.
Dari sisi pencegahan, perusahaan dapat memperkuat employer branding perusahaan agar lebih mampu menarik dan mempertahankan karyawan. Program metode onboarding karyawan baru yang terstruktur juga dapat membantu karyawan beradaptasi dengan lebih baik sejak awal.
Baca Juga: 5 Metode Onboarding Karyawan Baru yang Terbukti Efektif
Selain itu, perusahaan juga perlu memperhatikan pengembangan karier, kompensasi, lingkungan kerja, serta hubungan antara karyawan dan manajemen. Jika angka turnover terus meningkat, HR perlu mencari tahu bukan hanya berapa banyak karyawan yang keluar, tetapi juga mengapa mereka keluar.
Ingin Jadi HR yang Bisa Baca Data, Bukan Cuma Urusin Administrasi?
Memahami cara menghitung turnover karyawan adalah salah satu skill HR yang semakin penting di era data-driven. Namun, kemampuan membaca data turnover baru menjadi salah satu bagian dari keterampilan yang dibutuhkan untuk berkarier di bidang Human Resource.
Kalau kamu ingin membangun fondasi HR dari nol, kamu bisa mempertimbangkan bootcamp Human Resource Kelas Professional. Sementara itu, bagi kamu yang ingin lebih siap terjun ke dunia kerja dengan bimbingan karier dan program magang, tersedia Career Accelerator Human Resource.
Keduanya bisa menjadi pilihan untuk fresh graduate, career switcher, atau siapa saja yang ingin masuk ke bidang HR dengan bekal skill yang relevan dengan kebutuhan industri.
Baca Juga: Strategi Talent Management HR Modern yang Efektif
FAQ
1. Apakah turnover karyawan selalu negatif bagi perusahaan?
Tidak selalu. Turnover yang terjadi karena karyawan berperforma rendah keluar (functional turnover) justru bisa menyehatkan tim. Yang berbahaya adalah dysfunctional turnover, yaitu saat karyawan terbaik yang memilih pergi — ini yang perlu jadi perhatian HR.
2. Apa bedanya turnover rate dengan attrition rate?
Keduanya sama-sama mengukur keluarnya karyawan, tapi attrition biasanya lebih spesifik ke pengurangan alami (pensiun, meninggal, kontrak berakhir) tanpa penggantian posisi. Turnover lebih luas dan mencakup semua jenis keluarnya karyawan, termasuk yang posisinya langsung diisi lagi.
3. Seberapa sering HR sebaiknya menghitung turnover karyawan?
Idealnya dihitung setiap bulan untuk melihat tren, dan direkap setiap kuartal untuk laporan ke manajemen. Perhitungan bulanan membantu HR mendeteksi lonjakan turnover lebih awal sebelum jadi masalah serius.
4. Apakah ada tools khusus untuk menghitung turnover karyawan?
Secara teknis, HR dapat menggunakan spreadsheet seperti Excel atau Google Sheets untuk menghitung turnover dengan rumus sederhana. Perusahaan yang lebih besar juga dapat menggunakan HRIS atau Human Resource Information System untuk membantu mengolah data karyawan secara otomatis.
5. Bagaimana cara HR menggunakan data turnover untuk keputusan strategis?
Data turnover bukan sekadar angka laporan — HR bisa menggunakannya untuk mengidentifikasi divisi atau jabatan dengan angka keluar tertinggi, lalu menggali penyebabnya lewat exit interview. Hasilnya bisa jadi dasar perbaikan program retensi, penyesuaian kompensasi, atau penguatan jalur karier.
