Daftar Isi

Cara Riset Keyword untuk Pemula: Panduan Lengkap dari Nol sampai Ranking Google

Cara Riset Keyword untuk Pemula: Panduan Lengkap dari Nol sampai Ranking Google

Daftar Isi

Riset keyword adalah fondasi dari strategi SEO yang efektif. Tanpa riset keyword yang benar, kamu bisa menghabiskan berhari-hari menulis konten yang bagus, tapi tidak pernah ditemukan orang di Google karena menyasar kata kunci yang salah.

Banyak pemula yang melewatkan langkah ini karena terlihat rumit atau teknis. Padahal, dengan pemahaman yang tepat dan tools yang tersedia secara gratis, riset keyword adalah proses yang bisa dipelajari dan langsung dipraktikkan siapapun.

Di panduan ini, kamu akan belajar cara riset keyword dari nol. Memahami konsep dasarnya, mengenal metrik yang penting, menggunakan tools gratis yang tersedia, hingga menemukan keyword yang punya peluang nyata untuk ranking di halaman pertama Google.

Baca Juga: 10 Tools SEO Gratis Terbaik untuk Pemula 2026

Apa Itu Riset Keyword dan Mengapa Penting?   

Riset keyword adalah proses menemukan dan menganalisis kata atau frasa yang diketik orang di mesin pencari, dengan tujuan memilih keyword yang paling relevan dan strategis untuk dijadikan target konten.

Bayangkan kamu membuat artikel tentang “cara belajar desain grafis.” Tanpa riset keyword, kamu mungkin menggunakan judul itu karena terdengar bagus. Tapi dengan riset keyword, kamu mungkin menemukan bahwa “belajar desain grafis dari nol” atau “cara jadi desainer grafis pemula” punya volume pencarian yang jauh lebih tinggi dan persaingan yang lebih bisa dijangkau, sehingga peluang ranking-nya jauh lebih besar.

Menurut Ahrefs, 94,74% dari semua keyword memiliki volume pencarian di bawah 10 pencarian per bulan. Ini berarti sebagian besar peluang SEO yang nyata tersembunyi di keyword-keyword yang lebih spesifik dan kurang kompetitif, bukan di keyword umum yang terlihat jelas tapi sangat sulit untuk diranking.

Baca Juga: Cara Kerja Google Algorithm 2026: Faktor Ranking dan Update yang Perlu Dipahami

Memahami Metrik Dasar dalam Riset Keyword   

Sebelum mulai riset, kamu perlu memahami metrik-metrik yang akan sering ditemukan di tools SEO. Ini yang paling penting untuk dipahami pemula: 

1. Search Volume   

Search volume adalah estimasi berapa banyak orang yang mencari keyword tersebut per bulan. Semakin tinggi volume, semakin banyak potensi traffic yang bisa didapat, tapi biasanya juga semakin ketat persaingannya. Berikut cara membaca search volume:

  • Volume di atas 10.000/bulan: keyword populer, persaingan biasanya sangat ketat
  • Volume 1.000-10.000/bulan: menengah, masih kompetitif tapi lebih bisa dijangkau
  • Volume 100-1.000/bulan: lebih spesifik, persaingan lebih rendah
  • Volume di bawah 100/bulan: sangat niche, tapi bisa jadi peluang emas jika relevansinya tinggi

2. Keyword Difficulty (KD) 

Keyword Difficulty adalah skor yang menunjukkan seberapa sulit untuk mendapatkan peringkat tinggi untuk keyword tersebut di Google, biasanya dalam skala 0-100. Semakin tinggi angkanya, semakin sulit. Ini tabel panduan KD untuk pemula:

Skor KDTingkat KesulitanCocok Untuk
0–20Sangat mudahWebsite baru, pemula
21–40MudahWebsite dengan sedikit otoritas
41–60MenengahWebsite yang sudah punya backlink 
61–80SulitWebsite dengan Domain Authority tinggi 
81–1000Sangat sulitWebsite besar dan sudah mapan

Untuk pemula dan website yang baru mulai, fokus dulu di keyword dengan KD 0-30. Ini bukan berarti menyerah pada keyword besar, tapi membangun otoritas secara bertahap dari keyword yang bisa dimenangkan lebih dulu. 

3. Search Intent 

Search intent adalah tujuan atau maksud di balik sebuah pencarian. Google sangat memprioritaskan konten yang paling tepat menjawab intent pengguna, bukan sekadar yang mengandung keyword yang sama. Ada empat tipe search intent utama:

  • Informasional → pengguna ingin belajar atau memahami sesuatu. Contoh: “cara riset keyword”, “apa itu SEO”, “tips digital marketing”
  • Navigasional → pengguna mencari website atau halaman tertentu. Contoh: “Google Search Console login”, “Tempatbelajar.id bootcamp”
  • Transaksional → pengguna siap melakukan tindakan atau pembelian. Contoh: “daftar bootcamp digital marketing”, “beli kursus SEO online”
  • Komersial → pengguna sedang membandingkan sebelum membuat keputusan. Contoh: “rekomendasi tools SEO gratis”, “perbandingan Ahrefs vs SEMrush”

Mengetahui intent di balik keyword yang disasar membantu menentukan format konten yang tepat. Keyword informasional cocok untuk artikel panduan atau how-to. Keyword transaksional cocok untuk landing page atau halaman produk. 

4. Cost Per Click (CPC) 

CPC adalah estimasi biaya yang dibayar pengiklan per klik untuk keyword tersebut di Google Ads. Meski tidak langsung relevan untuk SEO organik, CPC yang tinggi adalah indikasi bahwa keyword tersebut bernilai komersial tinggi, artinya orang yang mencarinya cenderung siap mengambil tindakan atau melakukan pembelian. 

Cara Riset Keyword Step-by-Step 

1. Langkah 1: Tentukan Topik dan Seed Keyword  

Seed keyword adalah kata kunci awal yang paling mendasar yang mendeskripsikan topik kontenmu. Ini adalah titik awal riset, bukan keyword final yang akan digunakan. 

Cara menemukan seed keyword dengan memikirkan dari perspektif audiensmu, kata atau frasa apa yang akan mereka ketik di Google ketika mencari topik yang ingin kamu bahas. Jangan pikirkan keyword yang “benar” dulu, tuliskan semua kemungkinan yang terlintas. Contoh, untuk artikel tentang karier di bidang social media, seed keyword-nya bisa berupa “social media specialist”, “kerja social media”, “cara jadi social media manager”, “gaji social media”, dan sebagainya. Dari satu topik bisa muncul 5-20 seed keyword yang kemudian masing-masing akan dikembangkan lebih lanjut di langkah berikutnya.

2. Langkah 2: Gunakan Tools untuk Mengembangkan Keyword 

Dari seed keyword yang sudah dikumpulkan, gunakan tools riset keyword untuk menemukan variasi, volume, tingkat kesulitan, dan data lainnya. Berikut workflow tools untuk pemula (semua gratis): 

  • Google Keyword Planner → Masukkan seed keyword dan lihat daftar keyword terkait beserta estimasi volume pencariannya. Ini adalah sumber data paling akurat karena langsung dari Google.
  • Ubersuggest → Masukkan seed keyword untuk melihat keyword difficulty, CPC, volume, dan ratusan keyword turunan. Tampilan visualnya lebih mudah dibaca untuk pemula dibanding Keyword Planner.
  • Answer the Public → Masukkan seed keyword untuk melihat ratusan pertanyaan yang sering diajukan orang terkait topik tersebut. Sangat berguna untuk menemukan keyword berbasis pertanyaan yang sering muncul sebagai featured snippet.
  • Google Search sendiri → Jangan abaikan ini. Ketik seed keyword di Google dan perhatikan autocomplete suggestions (prediksi pencarian), bagian “People Also Ask”, dan bagian “Related Searches” di bawah halaman. Semua ini adalah keyword real yang digunakan orang.

3. Langkah 3: Analisis dan Filter Keyword  

Setelah mengumpulkan daftar keyword dari tools, saatnya menganalisis dan memilih mana yang layak dijadikan target. Berikut kriteria keyword yang ideal untuk pemula:

  • Relevansi tinggi. Keyword harus benar-benar relevan dengan topik dan audiens yang ingin dijangkau. Volume tinggi tapi tidak relevan tidak ada gunanya.
  • Search intent yang match. Pastikan intent keyword sesuai dengan tipe konten yang ingin dibuat. Jangan buat artikel how-to untuk keyword yang intent-nya transaksional.
  • Volume yang memadai untuk website baru, mulai dari keyword dengan volume 100-1.000/bulan. Hindari mengejar keyword dengan volume sangat tinggi tapi KD-nya juga sangat tinggi.
  • Keyword Difficulty yang realistis. Sesuaikan dengan kondisi website saat ini. Website baru sebaiknya fokus di KD 0-30 terlebih dahulu.
  • Gunakan spreadsheet untuk mencatat. Buat kolom untuk keyword, volume, KD, CPC, intent, dan catatan prioritas. Ini memudahkan perbandingan dan pengambilan keputusan.

4. Langkah 4: Pahami SERP dan Kompetitor 

Sebelum memutuskan untuk menarget sebuah keyword, selalu cek dulu halaman pertama Google (SERP) untuk keyword tersebut. Ini yang perlu diamati: 

  • Siapa yang berada di halaman pertama. Apakah mereka website besar dengan Domain Authority sangat tinggi, atau ada website kecil yang berhasil masuk? Kehadiran website kecil di halaman pertama adalah sinyal bahwa keyword ini masih bisa bersaing.
  • Format konten apa yang mendominasi. Apakah kebanyakan listicle, artikel how-to, video YouTube, atau halaman produk? Format yang mendominasi SERP biasanya adalah format yang paling sesuai dengan search intent keyword tersebut dan itu format yang sebaiknya kamu gunakan juga.
  • Apakah ada featured snippet. Featured snippet adalah kotak jawaban yang muncul di posisi 0, di atas semua hasil organik. Jika ada featured snippet untuk keyword yang disasar, pelajari format jawabannya dan buat konten yang menjawab pertanyaan tersebut dengan lebih baik dan lebih lengkap.
  • Seberapa dalam konten di halaman pertama. Kalau semua artikel di halaman pertama hanya 500-800 kata, artikel yang lebih mendalam dan komprehensif punya peluang yang baik. Tapi kalau sudah ada artikel 3.000+ kata yang sangat lengkap, kamu perlu menemukan angle yang berbeda untuk bisa bersaing. 

5. Langkah 5: Pilih Keyword Utama dan Keyword Turunan 

Setelah analisis SERP, tentukan hal ini: 

  • Keyword utama (Primary Keyword). Satu keyword yang paling relevan dan strategis untuk dijadikan fokus utama artikel. Keyword ini akan muncul di judul, H1, meta title, meta description, dan beberapa kali di dalam konten secara natural.
  • Keyword turunan (Secondary Keywords). 3-5 keyword terkait yang memiliki makna serupa atau topik yang berhubungan. Keyword turunan disisipkan secara natural di dalam konten untuk membantu Google memahami kedalaman dan konteks artikel, sekaligus membuka peluang untuk muncul di lebih banyak variasi pencarian.

Contoh:

Keyword utamacara riset keyword
Keyword turunan– riset keyword untuk pemul
– acara riset keyword SEO
– keyword research pemula
– cara mencari keyword gratis
– panduan riset keyword

6. Langkah 6: Petakan Keyword ke Konten (Keyword Mapping) 

Keyword mapping adalah proses menghubungkan setiap keyword dengan halaman atau artikel tertentu di website-mu, memastikan tidak ada dua halaman yang bersaing untuk keyword yang sama (disebut keyword cannibalization). Berikut cara membuat keyword map sederhana:

  • Buat spreadsheet dengan kolom keyword, volume, KD, halaman yang dituju, status (sudah ada/perlu dibuat)
  • Pastikan setiap keyword utama hanya ditarget oleh satu halaman
  • Gunakan keyword map ini sebagai panduan content plan ke depan

Keyword mapping membantu website berkembang secara terstruktur, setiap konten baru yang dibuat punya tujuan yang jelas dan tidak saling menabrak dengan konten yang sudah ada. 

Jenis-Jenis Keyword yang Perlu Diketahui  

1. Short-tail vs Long-tail Keyword   

Short-tail keyword adalah keyword pendek yang terdiri dari 1-2 kata. Contoh: “SEO”, “digital marketing”, “desain grafis.” Volume biasanya sangat tinggi tapi persaingannya ekstrem dan intent-nya kabur.

Long-tail keyword adalah keyword yang lebih panjang, biasanya 3 kata atau lebih. Contoh: “cara belajar SEO untuk pemula”, “tips digital marketing untuk UMKM”, “belajar desain grafis dari nol gratis.” Volume lebih rendah tapi persaingan jauh lebih rendah dan intent-nya lebih spesifik, artinya traffic yang datang lebih relevan dan lebih mudah dikonversi. 

Panduan riset keyword dari Backlinko bahkan mengungkap bahwa 92% dari seluruh kata kunci di Google adalah long-tail dengan 10 pencarian atau kurang per bulan. Artinya, jika digabungkan, kata kunci spesifik inilah yang menguasai sebagian besar total pencarian di internet, menjadikannya ladang paling strategis untuk website yang baru merintis otoritas. Makanya, pemula sangat disarankan mulai dari long-tail keyword. Selain lebih gampang ditembus, setiap artikel yang berhasil masuk halaman pertama bakal pelan-pelan mendongkrak otoritas domain situs kita untuk bersaing di kata kunci yang lebih kompetitif ke depannya.

2. Keyword Musiman vs Evergreen     

Keyword musiman adalah keyword yang volumenya naik turun sesuai momen tertentu. Contoh: “ucapan lebaran”, “promo harbolnas”, “resolusi tahun baru.” Traffic-nya bisa sangat besar di momen tertentu tapi sangat kecil di luar momen tersebut.

Keyword evergreen adalah keyword yang dicari secara konsisten sepanjang tahun tanpa banyak fluktuasi. Contoh: “cara riset keyword”, “cara jadi social media specialist”, “apa itu digital marketing.” Ini yang paling stabil untuk membangun traffic jangka panjang. 

Gunakan Google Trends untuk membedakan keyword musiman dari evergreen, lihat grafik trennya selama 12 bulan terakhir.

Kesalahan Riset Keyword yang Sering Dilakukan Pemula  

  • Hanya mengejar keyword dengan volume tertinggi. Volume tinggi biasanya berarti persaingan yang sangat ketat. Untuk website yang baru mulai, mengejar keyword volume tinggi sebelum punya otoritas yang cukup hampir pasti akan menghasilkan peringkat rendah.
  • Mengabaikan search intent. Membuat artikel panduan untuk keyword yang intent-nya transaksional (orang mau beli, bukan belajar) adalah pemborosan waktu. Konten yang tidak sesuai intent tidak akan di-ranking tinggi oleh Google, apapun kualitasnya.
  • Tidak mengecek SERP sebelum membuat konten. Riset keyword di tools saja tidak cukup. Selalu cek halaman pertama Google untuk keyword yang disasar sebelum mulai menulis, itu adalah gambaran nyata tentang kompetisi yang akan dihadapi.
  • Keyword stuffing. Memasukkan keyword sesering mungkin di dalam artikel tidak membantu ranking dan justru bisa merugikan. Google sudah sangat canggih dalam memahami konteks. Fokus pada kualitas konten dan penggunaan keyword yang natural.
  • Tidak memperbarui riset keyword secara berkala. Tren pencarian berubah. Keyword yang volumenya rendah tahun lalu mungkin sedang naik daun sekarang. Lakukan riset keyword ulang untuk topik-topik utama setiap 6-12 bulan.

Contoh Praktik Riset Keyword: Dari Nol sampai Menemukan Keyword yang Tepat 

Untuk memperjelas prosesnya, ini contoh riset keyword untuk artikel blog tentang karier digital marketing:

Topik yang ingin dibahas: Karier sebagai Social Media Specialist

Step 1 (Kumpulkan seed keyword): “social media specialist”, “kerja social media”, “karier digital marketing”, “gaji social media”, “cara jadi social media manager”

Step 2 (Masukkan ke tools): Dari seed keyword “social media specialist”, muncul turunan seperti berikut:

  • “cara jadi social media specialist” (volume: 480/bulan, KD: 18)
  • “gaji social media specialist Indonesia” (volume: 320/bulan, KD: 12)
  • “tugas social media specialist” (volume: 260/bulan, KD: 15)
  • “social media specialist adalah” (volume: 590/bulan, KD: 10)

Step 3 (Pilih berdasarkan kriteria): Semua keyword di atas memiliki KD rendah (di bawah 20) dan volume yang memadai, cocok untuk website yang sedang membangun otoritas. Intent-nya informasional, cocok untuk artikel panduan.

Step 4 (Cek SERP): Pencarian “cara jadi social media specialist” di Google menampilkan campuran artikel dari website media dan blog, tidak ada domain raksasa yang mendominasi. Ini sinyal positif bahwa keyword ini bisa bersaing.

Step 5 (Tentukan keyword utama dan turunan):

  • Keyword utama: “cara jadi social media specialist”
  • Keyword turunan: “social media specialist adalah”, “tugas social media specialist”, “gaji social media specialist”, “skill social media specialist”

Dari proses ini, terbentuk artikel yang jelas targetnya, jelas audiensnya, dan punya peluang nyata untuk ranking.

Kuasai Riset Keyword dan SEO di Bootcamp Digital Marketing Tempatbelajar.id 

Riset keyword adalah skill yang terlihat teknis tapi sebenarnya sangat bisa dipelajari oleh siapapun, semakin cepat dikuasai, semakin efektif setiap konten yang dibuat.

Di Tempatbelajar.id, riset keyword dan strategi SEO menjadi bagian dari kurikulumprogram bootcamp Digital Marketing Bootcamp dan Career Accelerator Digital Marketing Bootcamp. Dipelajari langsung bersama mentor praktisi yang aktif mengelola SEO untuk berbagai klien dengan sesi demo tools dan praktik langsung menggunakan data nyata. Keduanya cocok untuk pemula, fresh graduate, job seeker, dan career switcher yang ingin masuk ke dunia digital marketing secara serius. 

FAQ

Apa itu riset keyword dan mengapa penting untuk SEO? 

Riset keyword adalah proses menemukan dan menganalisis kata atau frasa yang diketik orang di mesin pencari, untuk menentukan keyword mana yang paling strategis dijadikan target konten. Penting karena tanpa riset keyword, konten yang dibuat mungkin tidak pernah ditemukan orang di Google, baik karena menyasar keyword yang terlalu kompetitif, volume pencarian yang terlalu rendah, atau tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya dicari audiens.  

Tools apa yang digunakan untuk riset keyword secara gratis? 

Ada beberapa tools riset keyword gratis yang bisa langsung dipakai pemula: Google Keyword Planner untuk data volume pencarian langsung dari Google, Ubersuggest untuk keyword difficulty dan ide keyword turunan, Answer the Public untuk menemukan pertanyaan yang sering dicari audiens, dan Google Search sendiri melalui fitur autocomplete, People Also Ask, dan Related Searches. Kombinasi keempat tools ini sudah sangat cukup untuk riset keyword yang solid tanpa biaya apapun. 

Berapa volume keyword yang ideal untuk pemula? 

Untuk website yang baru mulai membangun otoritas, keyword dengan volume 100-1.000 pencarian per bulan adalah titik awal yang paling realistis. Volume di rentang ini biasanya disertai tingkat persaingan yang lebih bisa dijangkau. Setelah beberapa artikel berhasil masuk halaman pertama Google dan domain authority mulai terbentuk, baru bisa mulai menyasar keyword dengan volume lebih tinggi. 

Apa perbedaan short-tail dan long-tail keyword?

Short-tail keyword adalah keyword pendek 1-2 kata dengan volume sangat tinggi tapi persaingan ekstrem, misalnya “SEO” atau “digital marketing.” Long-tail keyword adalah keyword 3 kata atau lebih yang lebih spesifik, dengan volume lebih rendah tapi persaingan jauh lebih rendah dan intent lebih jelas, misalnya “cara belajar SEO untuk pemula.” Untuk website yang masih baru, long-tail keyword adalah pilihan yang jauh lebih strategis karena lebih mudah diranking dan trafficnya lebih relevan. 

Apakah bisa ranking di Google tanpa riset keyword?

Bisa, tapi sangat tidak efisien. Tanpa riset keyword, pemilihan topik dan keyword hanya berdasarkan intuisi dan kemungkinan besar akan menyasar keyword yang terlalu kompetitif atau tidak cukup dicari orang. Riset keyword bukan jaminan ranking, tapi sangat meningkatkan peluang karena keputusan konten didasarkan pada data nyata tentang apa yang dicari orang dan seberapa besar peluang untuk bersaing.

Artikel Lainnya

© 2026 Tempat Belajar Digital School